Medan, Gelora Info — AI yang diberi label “perempuan” ternyata tidak lepas dari cara manusia memperlakukannya. Dalam beberapa penelitian, orang cenderung membawa bias yang sama seperti saat berinteraksi dengan manusia. Misalnya, AI yang diberi identitas perempuan sering dianggap lebih ramah atau membantu, tapi juga lebih sering “dimanfaatkan” atau tidak diperlakukan secara setara. Hal ini menunjukkan bahwa pola pikir tentang gender di dunia nyata ikut terbawa ke interaksi dengan teknologi
Menariknya, bias ini bukan karena AI-nya, tapi karena data dan cara manusia memandang gender sejak awal. AI belajar dari data yang sudah ada, termasuk stereotip yang selama ini berkembang di masyarakat. Akibatnya, sistem AI bisa ikut mereproduksi pola tersebut, misalnya mengasosiasikan perempuan dengan peran tertentu atau menunjukkan perbedaan respons berdasarkan gender
Dalam penggunaan sehari-hari, hal ini bisa terlihat dari bagaimana orang merespons atau mempercayai AI. Bahkan tanpa disadari, cara kita berbicara, memberi perintah, atau menilai jawaban AI bisa berbeda tergantung “gender” yang kita bayangkan dari AI tersebut. Ini yang kemudian jadi perhatian, karena interaksi dengan teknologi ternyata tidak sepenuhnya netral, tapi masih dipengaruhi cara pandang manusia itu sendiri terhadap gender.








