Karhutla Belum Berhasil Dipadamkan, Kualitas Udara Semakin Dipertanyakan

· 2 menit baca
dynasty-gif
oasis-gif
Karhutla Belum Berhasil Dipadamkan, Kualitas Udara Semakin Dipertanyakan

Medan, Gelora Info — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi perhatian karena api belum sepenuhnya padam dan asap terus mengganggu aktivitas masyarakat. Hingga 19 Oktober 2026, data BNPB menunjukkan bahwa dari total 1.024,33 hektare lahan yang menjadi sasaran penanganan di enam provinsi prioritas, sekitar 454,25 hektare telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, 570,08 hektare lainnya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan. Wilayah yang masih menjadi perhatian antara lain Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kondisi cuaca yang relatif kering juga membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit.

Walaupun jumlah titik panas mulai menurun, belum tentu berarti kualitas udara langsung membaik. Asap dari kebakaran, terutama yang terjadi di lahan gambut, dapat bertahan cukup lama karena bara api masih bisa menyala di bawah permukaan tanah. Asap juga dapat terbawa angin ke wilayah lain, dan daerah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung tetap berisiko terdampak. Partikel halus seperti PM2.5 yang terkandung dalam asap dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.

Pemerintah terus melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara, termasuk menggunakan helikopter untuk menyiram area kebakaran serta melakukan pembasahan pada lahan yang masih berpotensi terbakar kembali. Masyarakat juga perlu ikut menjaga kesehatan dengan memantau informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara memburuk, dan menggunakan masker N95 atau KN95 jika harus beraktivitas di luar. Menutup jendela saat asap pekat serta menggunakan penyaring udara jika tersedia juga dapat membantu mengurangi paparan di dalam rumah.