Medan, Gelora Info — Sebaran abu vulkanik perlu diwaspadai karena tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan manusia. Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada orang yang memiliki kondisi pernapasan sensitif. Selain itu, partikel abu yang mengenai mata dan kulit juga bisa menyebabkan iritasi. Saat abu menyebar dan menurunkan kualitas udara serta jarak pandang, masyarakat di wilayah terdampak juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker sebagai perlindungan.
Dampak abu vulkanik juga bisa terasa pada aktivitas sehari-hari. Abu yang terbawa angin dapat menutupi berbagai permukaan, mengotori rumah, kendaraan, serta mengganggu jarak pandang di jalan. Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi penerbangan karena abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat. Sebaran abu Anak Krakatau sebelumnya dilaporkan mencapai sejumlah wilayah di Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu, dengan sebagian abu berada di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Selain manusia, abu vulkanik juga dapat memberikan dampak terhadap tanaman dan lahan pertanian. Lapisan abu yang menutupi daun dapat menghalangi cahaya matahari sehingga proses fotosintesis terganggu. Abu juga dapat menutup stomata pada daun yang berfungsi dalam pertukaran gas, sehingga pertumbuhan tanaman ikut terhambat. Jika paparan cukup tebal atau berlangsung lama, tanaman dapat mengalami kerusakan, gagal berbunga, hingga berisiko menyebabkan gagal panen. Namun, dalam jangka panjang material vulkanik yang sudah mengalami pelapukan dapat membawa mineral tertentu ke tanah, meski abu vulkanik yang masih baru tidak bisa langsung dianggap sebagai pupuk.







